Hindu Bali, Sampradaya dan Jati Diri Nusantara
Ong Swastyastu,
Belakangan ini sering muncul kebingungan di tengah masyarakat tentang istilah Sampradaya dan kaitannya dengan Hindu Bali. Tulisan ini bukan untuk menolak siapa pun, tetapi sebagai pengingat agar kita memahami jati diri spiritual warisan leluhur Bali dan Nusantara.
1. Hindu Bali: Agama yang hidup dari kearifan Nusantara. Hindu Bali bukan meniru praktik keagamaan India atau bersumber dari India. Ia adalah hasil pertemuan ajaran Weda dengan budaya, alam, dan spiritualitas Asli Nusantara.
Perlu dipahami, banyak yang salah paham, bahwa Weda itu suatu kitab suci yang ada di India atau turun di India. Dimana analoginya spt pemahaman turunnya kitab suci Agama2 Samawi. Inilah pangkal kekeliruan, yg setiap bicara Weda, pasti mengarahkan ke India.
Weda sejatinya adalah mantra dan ajaran Suci. Dimana Weda Sruthi adalah matram2 dan Smerthi adalah ajaran sucinya. Matram2 yg dipakai sulinggih di Bali mepuja adalah asli yang ada di Bali/Nusantara, sedangkan Smerthi semua dalam lontar.
Ajaran ini hidup dalam konsep:
- Tri Hita Karana: harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
- Desa, Kala, Patra: penyesuaian Tata Cara Praktek dengan tempat, waktu, dan keadaan.
- Agama Tirta: penekanan pada kesucian dan keseimbangan hidup melalui simbol tirta sebagai media penyucian. (Hindu Loka)
- Lontar-lontar Bali menegaskan bahwa ajaran agama tidak hanya soal doktrin, tetapi tentang menjaga keseimbangan kosmis dan kehidupan semesta.
2. Lontar sebagai sumber otoritas spiritual lokal Di Bali, ajaran agama dijabarkan melalui ribuan lontar yang menjadi pedoman hidup, seperti:
Bhuwana Kosa, Siwa Tattwa, Jnana Siddhanta (ajaran tattwa/ketuhanan)
Siwa Sasana, Slokantara, Nitisastra (etika dan tata hidup)
Sundarigama, Yajña Samskara, Kramaning Atiwa-tiwa (tata upacara).
Lontar Siwa Sasana bahkan menegaskan bahwa Bhatara Siwa adalah Sang Hyang Widhi, menunjukkan konsep ketuhanan tunggal dalam tradisi Bali. Kemudian dalam Gong Wesi dikatakan semua dimulai dari Dalem (Dalem Kawi), Betara Dalem asal muasalnya. Ketika di Puseh disebut Sang Hyang Tri Yodadasa Sakti, di Pura Desa disebut Sang Hyang Tri Upashdana, di Bale Agung disebut Ida Sang Hyang Bagawati, di Perempatan Agung di sebut Ida Sang Hyang Catur Buana, di petluwan (pertigaan) disebut Sang Hyang Sapuh Jagat, dstnya...
Semua ini menunjukkan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, yang sangat berbeda dengan konsep Ketuhanan India, Sekte dan Sampradaya.
Dalam lontar lain seperti Kala Tattwa, ditekankan etika hidup untuk menjaga keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan alam.
3. Identitas Hindu Bali yang khas Tradisi Bali juga dibangun oleh perjalanan sejarah lokal, seperti ajaran Maha Rsi Markandya yang menata kehidupan spiritual, Kahyangan, sistem subak, dan yadnya untuk kesejahteraan alam dan masyarakat.
Konsep kosmologi seperti Dewata Nawa Sanga menunjukkan integrasi antara teologi Hindu Bali/Dharma dan tata ruang sakral khas Bali.
Ini menunjukkan bahwa Hindu Bali adalah tradisi hidup yang kontekstual, bukan sistem yang kaku atau seragam.
Dan Hindu Bali adalah Dharma Nusantara yang ketika Majapahit runtuh, semua tersisa dan berkumpul di Bali. Dimana Bali sebagai Kepala/Pariyangan Nusantara, sehingga Nusantara masih ada/hidup sepanjang zaman, dimana badan dan Anggota tubuh lain sedang tenggelam.
4. Tentang Sampradaya. Sampradaya pada dasarnya adalah aliran atau garis perguruan spiritual yang berkembang di India. Dalam konteksnya sendiri, itu sah sebagai tradisi spiritual.
Namun yang perlu dipahami:
- Sampradaya membawa tradisi, metode, dan budaya India tertentu.
- Hindu Bali memiliki teologi, tradisi, struktur sosial, dan sistem ritual yang berbeda.
- Ketika ada upaya mengubah praktik Hindu Bali agar mengikuti pola tertentu dari luar, di sinilah potensi kerancuan muncul.
- Hindu Bali sejak awal dipahami sbg prinsip adaptasi lokal, bukan konversi antar-aliran.
5. Sikap bijak menurut warisan leluhur Lontar-lontar Nusantara : mengajarkan keseimbangan, bukan penyeragaman.
Agama bukan sekadar identitas kelompok, tetapi jalan menjaga:
- keharmonisan alam (palemahan)
- keharmonisan sosial (pawongan)
- keharmonisan spiritual (parhyangan).
Karena itu, menjaga Hindu Bali berarti:
- menjaga tradisi leluhur
- memahami sumber ajaran dari lontar
- tidak mudah meninggalkan sistem adat, pura, dan tata yadnya yang telah diwariskan turun-temurun.
Penutup,
Hindu Bali bukan sekadar nama. Ia adalah warisan spiritual Nusantara yang lahir dari perjalanan panjang para leluhur. Menghormati tradisi lain adalah kebijaksanaan. Namun menjaga jati diri sendiri adalah Dharma.
Jika akar kita kuat, kita tidak akan mudah tercerabut oleh angin mana pun.
Ong Santih Santih Santih Ong
Comments
Post a Comment