Kepada anakku yang tercinta, pada hari peringatan kelahiranmu.
Engkau lahir pada hari Saniscara Umanis Medangkungan,
22 Februari 1992,
Lima tahun lamanya ajik dan mama menanti dengan sabar dan setia,
memohon dalam doa yang tiada putus,
menggenggam harap dalam sunyi yang panjang.
Sebab itulah engkau kami sebut “anak mahal”,
bukan oleh sebab harta,
melainkan oleh nilai penantian dan air mata yang menyertainya.
Tatkala saat itu genap menurut kehendak Sang Hyang Widhi,
engkau pun dianugerahkan kepada kami,
sebagai cahaya rumah tangga,
penyempurna kasih dalam kehidupan ini.
Kini tiga puluh empat tahun telah engkau jalani.
Wahai anakku,
semoga panjang umurmu,
sejahtera hidupmu,
tetap teguh engkau menempuh jalan kewajibanmu,
serta berbahagia dalam lindungan Yang Mahakuasa.
🖤🤍❤️
To my beloved daughter, on the sacred remembrance of your birth.
You were born upon Saniscara Umanis Medangkungan,
the 22nd day of February, 1992—
as though already inscribed within the scroll of Divine decree.
For five long years, your father and mother waited in patience and fidelity,
lifting prayers that never ceased,
cradling hope within the quiet chambers of the heart.
Thus we called you our “precious child,”
not for earthly worth,
but for the tears, the longing, and the faith from which you came forth.
When the appointed hour ripened in Heaven’s wisdom,
you were bestowed upon us—
a light within our dwelling,
a grace that made our lives complete.
Now you have walked thirty-four years upon this earth.
May your days be lengthened in blessing,
may prosperity attend your steps,
may steadfast courage dwell within your spirit,
and may abiding joy rest gently upon your soul.
Comments
Post a Comment