Bhagawan Gita : - bukan milik suatu kelompok -
Di tengah medan Kurukshetra — yang sebenarnya adalah batin kita sendiri —
Arjuna tiba-tiba menjatuhkan busur Gandiva.
Dia gemetar.
“Saya (ego) tidak mau berperang. Saudara melawan saudara, guru melawan murid… ini salah semua, Krishna!”
Saat itulah Krishna — suara hati yang paling jernih (spiritual) — berbicara langsung selama 700 sloka.
Itulah Bhagavad Gita, lagu Tuhan (Parama Atman) yang lahir tepat di tengah-tengah perang batin.
Jadi, kalau Mahabharata adalah cermin besar yang dibuat Wyasa agar kita melihat pertempuran dalam diri, maka Bhagavad Gita adalah lampu sorot yang ditaruh tepat di tengah cermin itu.
Krishna berkata kepada Arjuna (dan sejatinya kepada kita semua):
“Kau bukan tubuh ini, Arjuna. Kau adalah jiwa abadi. Jangan takut mati, jangan takut MEMBUNUH — lakukan kewajibanmu tanpa terikat pada hasil.”
→ Ini ajaran Karma Yoga. Kerja Tanpa pamerih sama sekali. Jangankan berpikir akan pamerih, itu sudah menimbulkan ikatan/kemelekatan, apalagi berbicara dan atau berbuat, sudah pasti karma itu akan terkotori.
“Serahkan semua buah perbuatan kepada-Ku (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) tetap tenang dalam suka dan duka.”
→ Ini Bhakti Yoga. Pencapaian kesadaran.
“Lihat Aku (Atman) di dalam segala makhluk, lihat semua makhluk di dalam Aku (Sang Hyang Widhi).”
→ Ini Jnana Yoga. Memahami Atman dan Parama Atman secara Praktyasa.
“Di antara semua yoga, yang paling cepat membawa pulang adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Ku.”
(Bab 18 sloka 66 — sloka paling terkenal sepanjang masa).
Intinya satu:
Perang di Kurukshetra tidak akan pernah selesai kalau kita terus berperang di luar.
Perang hanya selesai ketika kita mendengar suara Krishna di dalam batin kita sendiri — suara yang sama yang didengar Arjuna ribuan tahun lalu. Terjadinya pencerahan dimana getaran batin/atman ada di frekwenasi yang sama dg Ida Sang Hyang Widhi.
Makanya para resi Jawa kuno langsung jatuh cinta pada Bhagavad Gita.
Beliau beliau menerjemahkannya lewat batin jadi Kakawin Bhagavadgita, ditulis dalam tembang yang indah, dibaca di pura-pura dan candi-candi.
Bagi beliau, leluhur kita yang suci, Gita bukan kitab India.
Gita adalah panduan hidup sehari-hari untuk orang Bali, Jawa, Sunda — untuk kita semua, bangsa Nusantara.
Jadi, kalau kamu sedang bingung hidup ini mau dibawa ke mana, kalau hati sedang perang antara “harus” dan “mau”,
buka saja Bhagavad Gita.
Baca pelan-pelan.
Dengar baik-baik.
Karena di sana Hyang Widhi sedang bicara langsung kepadamu, bukan Khrisna kepada Arjuna yang hidup ribuan tahun lalu.
Beliau bilang:
“Serahkan saja semua kepada-Ku.
Aku akan membebaskanmu dari segala dosa.
Jangan takut.”
Dan saat itu juga,
medan perang dalam batinmu akan berubah jadi taman yang damai.
Comments
Post a Comment