MEMAHAMI KEMAHAESAAN IDA SANG HYANG WIDHI WASA (1)

 Memahami Kemahaesaan Ida Hyang Widhi Wasa (Bagian 1)

Sering kali kita bingung membedakan antara Dewa, Betara, dan Sang Hyang Widhi. Jika kita menengok ke belakang, khususnya di era 70-an dan sebelumnya, orang tua kita lebih sering menyebut Ratu Betara atau Ida Betara saat memohon sesuatu.

Apakah orang tua zaman dulu tidak paham tentang Ida Sang Hyang Widhi? Tentu Tidak! Justru sebaliknya! Mereka menjalankan ajaran Bali yang murni. Saat itu, pemahaman luar (India) maupun polusi ajaran non-Bali belum mendominasi pemikiran mereka.

"Hindu Bali" vs Pengaruh Luar

Sayangnya, pemahaman murni ini tidak terwariskan dengan sempurna kepada generasi berikutnya yang mengikuti pendidikan formal. Di sekolah, pelabelan "Hindu Bali" mulai memasukkan unsur pemahaman India yang terkadang membuat krama Adat Bali rancu.

Salah satu contohnya adalah pengaitan Tri Murti dengan tiga Dewa versi India. Padahal, dalam kemurnian ajaran kita, Tri Murti adalah perwujudan Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi dalam siklus:

Utpeti (Mencipta): Dimanifestasikan sebagai Sang Hyang Brahma.

Stiti (Memelihara): Dimanifestasikan sebagai Sang Hyang Wisnu.

Pralina (Melebur/Kembali ke Asal): Disebut Sang Hyang Iswara.

Catatan penting: Ini berbeda dengan konsep Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa dalam versi India.

Memahami Tri Purusa & Kualitas Batin

Dalam tingkatan spiritualitas, Sang Hyang Widhi dipahami sebagai Sang Hyang Siwa. Mengacu pada kualitas batin manusia, hal ini disebut Tri Purusa:

Siwa (Saguna Brahman): Keyakinan pada tingkat Agama Pramana.

Sada Siwa: Dirasakan melalui tingkat rasa/vibrasi (Anumana Pramana).

Parama Siwa (Nirguna Brahman): Pencapaian tertinggi saat Atman kembali menyatu dengan Parama Atman (Pratyaksa Pramana).

Berbeda dengan versi luar di mana orang bisa "memilih" antara Saguna atau Nirguna, dalam ajaran kita, ini adalah jenjang pencapaian kualitas batin yang sejalan dengan tahapan Catur Asrama.

Dewa vs Betara

Apa bedanya?

Dewa: Adalah sinar suci Sang Hyang Widhi yang menguasai alam raya dan penjuru mata angin (Dewata Nawa Sanga).

Betara: Adalah sinar suci-Nya yang dilinggihang (distanakan) di Merajan, Pura, atau tempat suci. Sebagai Betara, Beliau berfungsi melindungi dan memberikan wara nugraha kepada manusia.

Itulah mengapa orang tua zaman dulu lebih sering menyebut "Ida Betara". Bagi mereka, Sang Hyang Widhi yang Acintya (tak terpikirkan) mewujud secara personal dalam pikiran melalui sosok Betara sebagai jembatan energi menuju dunia niskala.

Tantangan Masa Kini

Leluhur kita telah memberi tuntunan melalui Tatwa, Susila, dan Upacara. Ketiganya adalah satu kesatuan yang harus dijalankan secara simultan. Ini bukan sekadar agama hafalan atau teks belaka, melainkan tentang praktek peningkatan kualitas batin.

Ironisnya, saat ini banyak yang mengaku ahli agama dengan gelar tinggi, namun kualitas batinnya nol. Inilah celah bagi ajaran asing untuk mengintervensi ajaran Bali yang adiluhung dan merusak generasi muda kita.

(Bersambung...)

Comments

Popular posts from this blog

Manifesto Surya Anom - Dharma Nusantara Studies

Hindu Bali, Sampradaya dan Jati Diri Nusantara