Mahabarata Dalam Renungan

 Teman-teman, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya:

“Kurukshetra itu benar-benar ada di India ya? Hastinapura itu kota beneran di zaman dulu?”

Sebenarnya… tidak perlu dicari di peta.

Mahabharata yang ditulis Bagawan Wyasa itu bukan laporan berita dari suatu tempat di bumi. 

Bukan kejadian di India, bukan di Jawa, bukan di mana-mana di luar sana.

Semua itu terjadi di dalam batin Wyasa sendiri.

Bayangkan:

Beliau duduk sendirian di tepi sungai yang hampir kering, mata batin terbuka lebar, lalu melihat perang besar yang sedang berlangsung… di dalam dada setiap manusia.

Pandawa dan Korawa bukan dua keluarga di India utara.

Mereka adalah dua kekuatan yang selalu bertengkar dalam diri kita: sisi baik dan sisi buruk, pikiran jernih dan nafsu buta.

Drupadi yang dihinakan itu adalah harga diri kita yang terluka setiap kali kita mengkhianati nilai-nilai sendiri.

Krishna yang memberi wejangan di tengah medan perang itu adalah suara hati kecil yang selalu berbisik, “Jangan menyerah, Tetap LAKUKAN Yang BENAR”

Wyasa tidak sedang menulis cerita sejarah.

Beliau sedang membukakan cermin yang sangat besar dan sangat jernih, supaya kita bisa melihat pertempuran yang sama yang sedang terjadi dalam diri kita saat ini juga.

Itulah kenapa naskah Mahabharata bisa sampai ke Nusantara berabad-abad sebelum orang luar Nusantara yg  sering dikatakan atau image sbg India modern tahu ada pulau yang namanya Jawa atau Bali.

Karena cerita itu tidak dibawa kapal atau pedagang — cerita itu lahir kembali di dalam batin para resi Nusantara, di dalam batin leluhur kita, dan sekarang… di dalam batin kita.

Jadi kalau suatu hari kamu membaca Mahabharata lalu tiba-tiba dada terasa sesak atau mata berkaca-kaca, itu bukan karena ceritanya sedih.

Itu karena kamu baru saja bertemu dirimu sendiri di dalam cermin yang diciptakan Wyasa ribuan tahun lalu. Kamu di gerbang kesadaran. 

Dan di balik semua pertempuran batin itu,

ada nyanyian lembut Sang Hyang Catur Weda yang tak pernah berhenti:

“Semua ini satu.

Kembali lah dan menyatu kepada yang Satu.”

Wyasa bukan penulis cerita.

Beliau adalah cermin yang hidup.

Dan kita semua sedang membaca diri kita sendiri di dalam cahaya beliau.

Ong śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ


Comments

Popular posts from this blog

Manifesto Surya Anom - Dharma Nusantara Studies

Hindu Bali, Sampradaya dan Jati Diri Nusantara