Proses Indianisasi: Karpet Merah Sampradaya Menggerus Hindu Dharma Nusantara

Hindu Bali (Hindu Dharma Nusantara) memiliki akar yang berbeda dengan Hindu di India. Saat ini, ada upaya sistematis dari pihak tertentu yang membuka jalan bagi "Indianisasi", yang pada akhirnya menjadi jembatan bagi intervensi Sampradaya ke dalam tatanan kita.

Ini adalah ancaman serius. Hindu Dharma Nusantara, yang berakar dari Dharma Abadi Nusantara, memiliki ajaran yang utuh dan selaras. Sebaliknya, konsep yang dipaksakan dari luar sering kali hanya berpijak pada literasi pikiran, tanpa kedalaman kualitas batin yang menjadi ciri khas leluhur kita. Akibatnya, terjadi pemisahan antara Tattwa, Susila, dan Upacara.

Pernyataan dari oknum yang memiliki etnik India bahwa Candi Prambanan adalah rumah Dewa Siwa adalah keliru. Begitu pula merayakan hari Raya Mahasiwaratri di Prambanan, bukan hari Suci Hindu Dharma Indonesia. Itu muncul dari perspektif sekte tertentu di India yang merasa paling benar. Padahal, sekte-sekte tersebut hanyalah serpihan kecil dari ajaran utuh Siwa-Budha yang lahir di Nusantara.

Berikut adalah poin krusial yang harus kita pahami untuk membentengi Nusantara dari arus Indianisasi:

1. Pemujaan Dewa yang Utuh: Hindu Dharma Nusantara tidak memuja satu Dewa secara eksklusif (monolatri sekte). Pernyataan yang menyebutkan kita hanya "Pemuja Dewa  Siwa" adalah cara pandang sekte India. Kita memegang konsep Dewata Nawa Sanga, bukan seperti kelompok Hindutva dari India yang mencoba mengklaim situs-situs di luar negeri (seperti Ka’bah) sebagai tempat Dewa Siwa.

2. Perbedaan Hari Suci: Dalam pakem asli Hindu Dharma Nusantara, tidak dikenal istilah atau perayaan Mahasiwarartri, Mahagangga. Memaksakan tradisi sungai di India ke Nusantara adalah bentuk pengikisan jati diri.

3. Dharma Tanpa Sekte: Nusantara adalah asal muasal Dharma yang utuh. Pengkotak-kotakan menjadi sekte-sekte kecil seperti di India justru akan memecah belah soliditas umat Hindu Dharma Indonesia.

4. Sejarah Global Nusantara: Sejak ribuan tahun lalu, Dharma Nusantara telah mewarnai peradaban dunia. Ajaran Siwa-Budha adalah puncak kesempurnaan batin, bukan sekadar pemujaan satu Dewa sebagai Tuhan tunggal yang kaku.

5. Menolak Pengkerdilan: Memasukkan tafsir India ke dalam Hindu Dharma adalah bentuk pengkerdilan dan perusakan sistematis terhadap warisan leluhur.

6. Kedaulatan Identitas: Menjadikan Hindu di Indonesia berkiblat ke India hanya akan memberi ruang bagi Sampradaya untuk melakukan intervensi dari dalam dan menghancurkan tatanan desa, kala, patra kita.

Candi adalah warisan Nusantara, bukan India. Mari kembali ke jati diri.

https://www.facebook.com/share/v/1HXTQRFSSu/

Comments

Popular posts from this blog

Manifesto Surya Anom - Dharma Nusantara Studies

Hindu Bali, Sampradaya dan Jati Diri Nusantara